Mengembalikan Ruh Ilmu

whatsapp image 2025 10 18 at 00.44.20

Dandi Ryadi, Bahas Filsafat Ilmu di LK 1 HMI STAI Musadadiyyah Garut

Garut, 17 Oktober 2025 — Di tengah krisis arah dan fragmentasi pengetahuan modern, Dandi Ryadi, Founder Madinatul Fadhillah Parahiyangan, tampil sebagai pemateri dalam Latihan Kader (LK 1) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat STAI Musadadiyyah Garut, dengan mengusung materi “Filsafat Ilmu: Mengurai Sejarah dan Problem Epistemologis Dunia Islam dan Barat.”

Dalam pemaparannya, Dandi Ryadi menyoroti bagaimana ilmu pengetahuan modern hari ini mengalami kemunduran ontologis. Ilmu kehilangan kesadarannya tentang hakikat keberadaan dan tujuan keberilmuannya. “Ilmu modern terlalu lama bertumpu pada empirisme dan positivisme. Ia lupa bahwa rasio dan intuisi—dua instrumen epistemik utama dalam tradisi filsafat Islam—adalah bagian penting dari jalan menuju kebenaran,” ujarnya.

Dandi menegaskan bahwa proyek besar Madinatul Fadhillah Parahiyangan adalah mengembalikan paradigma ilmu pada akar ontologis dan epistemologis yang integral. “Kami berkomitmen membangun paradigma keilmuan yang tidak hanya menjadikan data dan eksperimen sebagai kebenaran tunggal, tapi juga mengakui rasionalitas, hikmah, dan dimensi ruhaniah manusia sebagai bagian dari epistemologi. Inilah yang kami sebut sebagai revitalisasi ilmu berparadigma tauhid,” jelasnya.

Lebih jauh, Dandi menjelaskan bahwa filsafat Islam sesungguhnya telah memberikan kontribusi luar biasa bagi pembangunan peradaban dunia. Tokoh-tokoh seperti Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, dan Mulla Sadra telah menunjukkan bahwa ilmu-ilmu keislaman tidak terpisah dari ilmu-ilmu humaniora maupun ilmu-ilmu alam. “Dalam pandangan Islam, tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Keduanya adalah bagian dari satu kesatuan kosmos yang memancar dari sumber wujud yang sama, yaitu Tuhan,” tambahnya.

Melalui sesi ini, para peserta LK 1 diajak untuk melihat ilmu bukan hanya sebagai alat berpikir, tetapi juga sebagai jalan spiritual untuk menemukan makna keberadaan. Pendekatan filsafat ilmu diharapkan menjadi jembatan bagi mahasiswa Islam dalam mengintegrasikan iman, akal, dan amal secara proporsional.

Langkah Madinatul Fadhillah Parahiyangan ini menjadi bagian dari misi besarnya dalam membangun kembali kesadaran keilmuan di kalangan muda dan menengah—bahwa kemajuan peradaban tidak hanya diukur oleh teknologi dan ekonomi, tetapi juga oleh kedalaman berpikir dan kematangan ruhani.

“Kita harus berani menempatkan filsafat Islam bukan di pinggiran, tapi di jantung pembangunan ilmu. Karena dari sanalah lahir manusia yang tidak hanya cerdas, tapi juga bijaksana,” pungkas Dandi.

Dengan kehadiran gagasan-gagasan seperti ini, HMI STAI Musadadiyyah Garut melalui kegiatan kaderisasinya bukan sekadar melahirkan aktivis, tetapi calon intelektual muda yang akan membawa arah baru bagi masa depan peradaban keilmuan Islam di IndonesiaBEASISWA

Madinatul Fadhilah Parahiyangan