Membangun Pendidikan Berperadaban: Dari Kuntowijoyo ke Amin Abdullah

Transformasi Paradigma Keilmuan Islam Integralistik Menuju Abduktif (Integrasi-Interkonektif)
Latar Belakang: Pendidikan Islam dan Krisis Integrasi Ilmu
Pendidikan Islam hari ini dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjembatani jurang antara ilmu agama dan ilmu modern.
Banyak lembaga pendidikan masih terjebak dalam dua kutub ekstrem: tekstualisme yang kaku tanpa relevansi dalam kehidupan nyata dan sekularisme yang meniadakan nilai-nilai spiritual.
Dua pemikir besar Indonesia, Kuntowijoyo dan M. Amin Abdullah, hadir menawarkan jalan tengah.
Keduanya ingin mengembalikan ruh keilmuan Islam agar mampu melahirkan pendidikan yang berperadaban, yaitu pendidikan yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal.
Kuntowijoyo merumuskan konsep “pengilmuan Islam” — menjadikan wahyu sebagai paradigma ilmu.
Sementara M. Amin Abdullah mengembangkan gagasan “pendekatan abduktif-integratif” — cara berpikir interkonektif antara teks, akal, dan realitas sosial.
2. Dari Bayani, Burhani, dan Irfani: Mencari Keseimbangan Baru
Dalam tradisi Islam klasik, ada tiga pendekatan utama dalam memahami wahyu:
- Bayani – berbasis teks dan bahasa, menekankan tafsir literal.
- Burhani – berbasis rasionalitas dan logika filosofis.
- Irfani – berbasis intuisi dan pengalaman spiritual.
Selama berabad-abad, pendekatan bayani mendominasi, terutama dalam disiplin fikih dan kalam.
Akibatnya, dua pendekatan lain — burhani dan irfani — sering tersingkir dari arus utama studi Islam.
Padahal, ketiganya jika dikembangkan secara seimbang akan menghasilkan cara berpikir yang utuh: rasional, spiritual, dan kontekstual.
Menurut M. Amin Abdullah, pendekatan deduktif-tekstual (bayani) yang terlalu menutup diri justru membuat agama kehilangan daya dialogisnya terhadap realitas sosial dan ilmu pengetahuan modern
3. Dari Kuntowijoyo ke Amin Abdullah: Evolusi Paradigma Integralistik ke Abduktif
Pengilmuan Islam (Kuntowijoyo)
Kuntowijoyo memperkenalkan konsep pengilmuan Islam — upaya menjadikan nilai-nilai wahyu (ayat qauliyyah) sebagai paradigma dalam memahami realitas sosial.
Tujuannya bukan sekadar membuktikan bahwa Islam sesuai dengan sains, melainkan menjadikan Islam sebagai sumber teori sosial yang membebaskan dan memanusiakan
Ia menegaskan bahwa ilmu yang berlandaskan Al-Qur’an harus mendorong humanisasi, liberasi, dan transendensi, sehingga manusia tidak hanya rasional tetapi juga bermoral.
Epistemologi Abduktif (M. Amin Abdullah)
Amin Abdullah kemudian mengembangkan paradigma abduktif-interkonektif, yaitu cara berpikir yang menekankan logic of discovery — logika penemuan, bukan sekadar pembenaran.
Melalui pendekatan al-takwīl al-‘ilmī (penafsiran ilmiah), beliau menggabungkan tiga cara berpikir klasik — bayani, burhani, dan irfani — ke dalam satu sistem dialogis yang saling mengontrol dan melengkapi
Model ini tidak hanya membumikan wahyu ke dalam realitas empiris, tapi juga memungkinkan hasil kajian sosial dan ilmiah memperkaya pemahaman keagamaan.
4. Epistemologi Abduktif: Cara Berpikir Penemuan dan Dialog
Berbeda dari pola deduktif yang menurunkan pengetahuan dari teks, atau pola induktif yang hanya mengandalkan data empiris,
pola abduktif bekerja secara sirkular (berputar) dan dinamis.
Prosesnya melibatkan interaksi antara:
Wahyu → Akal → Realitas → Refleksi → Rekonstruksi → Kembali ke Wahyu
Dengan cara ini, agama dan ilmu tidak lagi berdiri terpisah, tetapi berkelindan dalam proses penemuan makna baru.
Inilah yang disebut Amin Abdullah sebagai integrasi-interkoneksi ilmu (integrated-interconnected paradigm)
Paradigma ini tidak meniadakan peran Tuhan (seperti sekularisme ekstrem), dan tidak juga menutup ruang manusia untuk berpikir (seperti fundamentalisme),
tetapi menyatukan keduanya dalam hubungan yang saling memperkaya.
5. Model Operasional: Al-Takwīl al-‘Ilmī dan “Spider Web”
Untuk menerapkan cara berpikir abduktif, M. Amin Abdullah memperkenalkan dua instrumen metodologis penting:
Al-Takwīl al-‘Ilmī (Penafsiran Ilmiah)
Pendekatan ini menekankan empat langkah utama:
- Dialog antar-epistemologi (bayani, burhani, irfani)
- Pengujian empiris terhadap realitas sosial
- Rekonstruksi kritis terhadap hasil-hasil ilmu
- Integrasi interdisipliner antara ilmu agama, sosial, dan sains
Model Spider Web
Model ini menggambarkan struktur pengetahuan Islam yang saling terhubung,
dengan Al-Qur’an dan Sunnah di pusat, dikelilingi oleh berbagai disiplin ilmu seperti fiqh, kalam, humaniora, dan sains.

Setiap “benang” pengetahuan saling menguatkan dan membentuk jaring besar yang disebut horizon pengetahuan Islam (Islamic knowledge horizon).
Melalui model ini, pendidikan Islam bergerak dari hafalan menuju penemuan dan penghayatan.
6. Relevansi bagi Dunia Pendidikan dan Filantropi Islam
Paradigma abduktif-integratif membawa semangat baru dalam dunia pendidikan Islam.
Ia mendorong lembaga pendidikan untuk:
- Mengintegrasikan spiritualitas dan rasionalitas
- Mengembangkan kurikulum interdisipliner
- Melatih peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan berakhlak
Bagi para donatur dan filantropis, mendukung pendidikan berbasis paradigma ini bukan sekadar amal sosial,
tetapi investasi strategis bagi pembangunan peradaban Islam masa depan.
Karena melalui pendidikan yang integratif, kita tidak hanya mencetak generasi pintar, tapi juga generasi berjiwa dan bernilai.
7. Kesimpulan: Pendidikan Islam yang Hidup dan Menghidupkan
Transformasi dari Kuntowijoyo ke M. Amin Abdullah menandai perjalanan penting pemikiran Islam Indonesia.
Dari paradigma deduktif menuju abduktif, dari pemisahan menuju integrasi,
dari ilmu yang statis menuju ilmu yang reflektif dan transformatif.
Pendidikan Islam yang berperadaban bukan hanya mentransfer ilmu,
tetapi menumbuhkan kesadaran — bahwa belajar adalah ibadah, berpikir adalah dzikir, dan mengabdi adalah jalan menuju Tuhan.Artikel
Daftar Referensi
- M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010, hlm. 200–218.
- Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika, Bandung: Mizan, 1991.
- M. Amin Abdullah, al-Ta’wil al-Ilmi: Ke Arah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci, al-Jami’ah Vol. 39 No. 2 (2001): 362.
- Hasan Hanafi, Dirasat al-Islamiyyah, Kairo: Maktabah al-Anjlu Mishiriyyah, 1981.
- Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, Jakarta: Paramadina, 2003.
- Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, Chicago: University of Chicago Press, 1982.
- Seyyed Hossein Nasr, A Young Muslim’s Guide to the Modern World, Chicago: Kazi Publications, 2003.
- Muhammad Zainal Abidin, Paradigma Islam dalam Pembangunan Ilmu Integralistik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo, Banjarmasin: IAIN Antasari Press, 2015.