
oleh: Dandi Ryadi (Founder Yayasan)
MENYIBAK KRISIS PENDIDIKAN INDONESIA DARI FILSAFAT ASHALAT AL-WUJUD DI ERA DIGITAL DAN AI
Indonesia sedang berlari mengejar “pendidikan 5.0” di tengah derasnya arus AI. Tapi di balik gemerlap teknologi, kita perlu bertanya: apakah manusia masih menjadi pusat dari pendidikan itu sendiri?
Pendahuluan
Di era ketika AI bisa menulis, menjawab, dan berpikir logis lebih cepat daripada manusia, muncul pertanyaan yang makin mendesak:
> Kalau mesin bisa berpikir, lalu apa arti menjadi manusia?
Sementara itu, pendidikan kita sering kali masih terperangkap rutinitas lama: kurikulum usang, kompetisi tanpa makna, dan sistem yang mengukur manusia hanya lewat angka.
Kita sibuk memperbarui metode, tapi belum memperbarui pandangan mendasar tentang manusia. Padahal, akar persoalan pendidikan bukan sekadar apa yang diajarkan, melainkan bagaimana kita memandang manusia itu sendiri.
Di sinilah filsafat Islam klasik—khususnya gagasan Mulla Ṣadrā tentang Aṣālat al-Wujūd—menjadi pemandu: bahwa pendidikan sejati bukan mencetak manusia pintar semata, tetapi menumbuhkan keberadaan manusia yang utuh.
1. Krisis Pendidikan: Banyak Pengetahuan, Kehilangan Eksistensi
Sistem kita sering menilai manusia berdasar seberapa banyak ia tahu, bukan seberapa dalam ia menjadi. Hasilnya: muncul generasi yang “cerdas di mata orang lain”, tetapi kehilangan makna keberadaannya sendiri.
Kita mencetak manusia produktif secara ekonomi, tapi kering secara eksistensial.Mereka bisa berpikir logis layaknya mesin, namun tak lagi memahami “mengapa” mereka berpikir.Dan di era AI, kelemahan itu makin nyata. Mesin bisa menghafal lebih cepat, menghitung lebih akurat, bahkan menulis lebih fasih. Maka, nilai manusia sejati bukanlah dalam kecerdasan semata, melainkan dalam kesadaran dirinya sendiri.
Ṣadrā pernah menegaskan:
> “Al-‘ilm ṣūrah wujūdiyyah fī al-nafs.”
Ilmu adalah bentuk eksistensi dalam jiwa.
— dari al-Shawāhid al-Rubūbiyyah
Artinya, ilmu sejati bukan sekadar representasi intelektual, melainkan manifestasi keberadaan yang hidup dalam diri manusia.
2. Filsafat Aṣālat al-Wujūd: Dari “Tahu” ke “Menjadi”
Menurut Mulla Ṣadrā, yang paling nyata bukanlah esensi (mahiyah), melainkan eksistensi (wujūd) itu sendiri:
> “Al-wujūd aṣīl wa al-māhiyyah i‘tibāriyyah.”
Eksistensi adalah yang hakiki, sementara esensi hanyalah konsep mental.
— Ṣadrā, al-Asfār al-Arba‘ah
Realitas, dalam pandangannya, bukan tumpukan benda mati, melainkan arus eksistensi yang terus bergerak (harakah jawhariyyah). Semua makhluk—termasuk manusia—berada dalam perjalanan dari kekurangan menuju kesempurnaan (min al-naqṣ ilā al-kamāl).
Dalam konteks pendidikan hal ini bermakna:
> Belajar bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi meningkatkan kualitas keberadaan manusia itu sendiri.
AI bisa menirukan logika dan bahasa, namun tidak bisa “menjadi” — ia tidak mengalami transformasi eksistensial, tidak memiliki kesadaran diri, tidak mencintai, dan tidak memiliki tujuan rohaniah.Sehingga, pendidikan manusia harus fokus menumbuhkan kecerdasan wujudiah (eksistensial): kesadaran akan diri, makna, dan arah hidup.
3. Manusia sebagai Co-Creator Tuhan
Aṣālat al-Wujūd sejalan dengan Muhammad Iqbal yang memberikan dimensi dinamis dan kreatif pada humanisme Islam. Dia mengajak manusia menjadi mitra kreatif Tuhan (co-creator), bukan makhluk pasif.
Iqbal menulis:
> “The ultimate aim of the ego is not to see something, but to be something.”
— Gulshan-i Rāzī, dikutip dalam kutipan populer oleh Iqbal.
Juga:
> “A wrong concept misleads the understanding; a wrong deed degrades the whole man, and may eventually demolish the structure of the human ego.”
— Muhammad Iqbal
Bagi Iqbal, manusia tidak lahir hanya untuk menjalani takdir, tetapi untuk mengkreasi masa depan melalui kesadaran diri (khudi). Dia menolak gagasan bahwa manusia harus larut dalam keabadian abstrak; sebaliknya, manusia harus terus memperkuat diri untuk menjadi lebih kreatif dan bertanggung jawab. Dalam teorinya ini, Iqbal menyatakan bahwa derajat keberadaan seseorang diukur dari seberapa dalam ia merasakan “aku” — “I-amness” — dan seberapa jauh ia menjadikan itu sebagai dasar pembangunan diri dan peran sosial.
4. Kesalahan Paradigma Pendidikan Modern
Bila kita melihat sistem pendidikan saat ini melalui lensa wujūd (Eksistensial) Sadra, kita akan menemukan sejumlah kelemahan struktural:
a. Mereduksi manusia menjadi data (Dehumanisasi)
Anak-anak hanya dilihat sebagai angka nilai, ranking, dan skor. Padahal eksistensi manusia tidak bisa ditangkap sepenuhnya oleh statistik.
> “What can be measured is not always what matters.” — sering dikaitkan Albert Einstein
AI bisa melakukan penilaian objektif, tetapi ia tidak bisa memahami mengapa seseorang berjuang, atau apa makna yang ia cari dalam hidupnya.
b. Memisahkan ilmu dari kehidupan
Dalam pandangan Ṣadrā, ilmu bukan sekadar representasi eksternal dari objek, melainkan manifestasi wujud (Eksistensi) dalam jiwa manusia. Ilmu sejati membuat manusia menjadi lebih hidup, bukan hanya lebih tahu.
c. Mengabaikan spiritualitas
Kecerdasan intelektual diagungkan, tetapi spiritualitas abai. AI bisa memproses probabilitas, tapi ia tidak bisa merenung tentang penderitaan, keadilan, perjuangan, pengorbanan, cinta, rahmat, atau takdir.
d. Kehilangan nilai moral
Manusia dididik untuk berhasil, bukan bermakna. Pendidikan menjadi teknis dan pragmatis, bukan eksistensial dan nilai-nilai.
5. Dialog dari Timur ke Barat tentang Eksistensi Manusia
Menariknya, kegelisahan yang sama juga muncul di dunia Barat. Paradigma wujūd (Eksistensi) ternyata memiliki kesesuaian dengan beberapa pemikiran Barat modern:
Martin Heidegger: menyebut bahwa krisis dalam masyarakat modern adalah “lupa akan pertanyaan tentang keberadaan” (being). Teknologi menjadi dominan tanpa refleksi ontologis.
Abraham Maslow: manusia memiliki potensi aktualisasi diri (self-actualization) — yaitu keinginan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya. Ini resonan dengan takamul al-wujūd (kesempurnaan manusia dari perkembangan keberadaannya) dari Ṣadrā.
Carl Rogers: “The only person who is educated is the one who has learned how to learn and change” — menekankan bahwa pendidikan sejati adalah proses dinamis dan eksistensial.
Paulo Freire: menolak pendidikan “banking” dan menyuarakan pedagogi kesadaran (conscientização), di mana pendidikan adalah proses dialogis dan transformasional.
Pemikiran Barat ini memperkuat bahwa pendidikan tidak boleh hanya teknis dan instrumentalis, tetapi harus menyentuh eksistensi manusia secara utuh.
6. Reformasi Paradigma Pendidikan: Jalan Menuju Wujud Sejati
Jika kita ingin pendidikan Indonesia berubah secara nyata di era AI, maka kita harus memulai dari pergantian paradigma, bukan sekadar pergantian kurikulum atau teknologi.
Berikut langkah-langkah strategis:
1. Pandang peserta didik sebagai wujud yang tumbuh dari kesadaran rasionalitas menuju kesadaran spiritualitas, bukan wadah yang harus diisi.
2. Utamakan pendidikan kesadaran, bukan cuma pengembangan kecerdasan. Kecerdasan bisa ditiru mesin, namun kesadaran hanya tumbuh melalui pengalaman batin.
3. Peran guru sebagai pembimbing wujud (mursyid al-wujūd), bukan hanya perantara materi.
4. Integrasikan akal, ruh, dan amal agar ilmu tidak kehilangan arah spiritual dan sosial.
5. Gunakan AI sebagai alat, bukan pengganti manusia. AI mempercepat proses belajar, tetapi arah dan maknanya tetap harus ditentukan manusia yang sadar akan tujuan.
Penutup
Era AI memaksa kita merefleksikan ulang:
> Apa arti menjadi manusia di dunia yang bisa berpikir tanpa jiwa?
Dalam pandang Aṣālat al-Wujūd, manusia bukan sekadar “makhluk yang tahu”, melainkan “makhluk yang menjadi”.
Tugas pendidikan sejati adalah menuntun manusia menjadi lebih sadar, lebih hidup, dan lebih bermakna dalam mencapai kesempurnaan dirinya dan lingkungan masyarakatnya menuju Tuhan secara terus-menerus tiada henti (taqarrub billāh).
Revolusi pendidikan sejati bukan mengganti kurikulum atau menambah aplikasi, melainkan mengembalikan pendidikan pada hakikat wujud manusia itu sendiri.
> Mesin bisa meniru cara pikir kita,Wakaf Buku, Al-Qur`an,& Fasilitas Pendidikan
Referensi
1. Ṣadr al-Dīn al-Shīrāzī (Mulla Ṣadrā). al-Asfār al-Arba‘ah. Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1981.
2. Ṣadr al-Dīn al-Shīrāzī. al-Mashā‘ir. Qom: Mu’assasah al-Nashr al-Islāmī, 1981.
3. Ṣadr al-Dīn al-Shīrāzī. al-Shawāhid al-Rubūbiyyah. Qom: Intishārāt Ḥikmat, 1960.
4. Muhammad Iqbal. The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Lahore: Ashraf Press, 1934.
5. Paulo Freire. Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum, 1970.
6. Carl Rogers. Freedom to Learn. Columbus: Merrill, 1969.
7. Abraham Maslow. Motivation and Personality. New York: Harper & Row, 1954.
8. Martin Heidegger. The Question Concerning Technology. New York: Harper, 1977.
9. Viktor Frankl. Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press, 1959.
10. Albert Einstein. Ideas and Opinions. New York: Crown Publishers, 1954