desain tanpa judul (6)

PII di Persimpangan Zaman: Grand Design Transformasi

Oleh: Atqiya Fadil Rahman


Hook: Ketika Pelajar Berubah Lebih Cepat dari Organisasi

Generasi pelajar hari ini bergerak dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia digital, konten instan, kompetisi akademik, kecemasan karier, dan fragmentasi identitas membuat lanskap pelajar jauh lebih kompleks dibandingkan dua dekade lalu. Pertanyaannya sederhana namun krusial: apakah organisasi pelajar masih memiliki relevansi di tengah perubahan ini?

Gerakan Pelajar Islam Indonesia (PII) menjawab tantangan tersebut melalui penyusunan Grand Design Transformasi 2026–2028, sebuah ikhtiar strategis untuk memperkuat relevansi pasca-turbulensi internal dan mereposisi diri di hadapan perubahan zaman.

Dalam naskahnya, Atqiya menegaskan:

“Transformasi bukan soal memperbarui program; ia soal memperbarui cara organisasi memaknai dirinya.”

Transformasi yang dimaksud bukan kosmetik, tetapi reinvensi identitas organisasi.


Zaman Pelajar dan Ruang Organisasi Baru

Generasi pelajar hari ini—Gen Z dan Gen Alpha—adalah generasi non-linear: tidak rigid pada struktur, cepat bereksperimen, dan menuntut otentisitas. Mereka tidak mencari organisasi sebagai ruang komando, melainkan ruang tumbuh.

“Pelajar tidak mencari organisasi untuk diatur. Mereka mencari ruang untuk merasa dikenal, dihargai, dan dibantu tumbuh,” tulis Atqiya.

Di sini PII dituntut mengubah dirinya dari aktor retoris menjadi aktor pendamping—mentor yang membantu pelajar memasuki dunia global dengan keterampilan, jaringan, dan kepercayaan diri.


PII di Titik Infleksi

Sebagai organisasi pelajar tertua di Nusantara, PII memiliki modal historis: usia panjang, legitimasi sejarah, jaringan alumni, hingga kultur independensi. Tetapi modal tersebut tidak otomatis menghadirkan relevansi.

Dalam dua dekade terakhir, PII berhadapan dengan tiga krisis strategis:

  1. Krisis Naratif — apa misi PII hari ini?
  2. Krisis Kaderisasi — mengapa pelajar tidak masuk?
  3. Krisis Identitas Digital — bagaimana posisi PII di ruang digital?

Situasi ini menuntut rekontekstualisasi Khitthah. “Kembali ke Khitthah” bukan nostalgia, tetapi reposisi nilai.

“Nilai tidak berubah, tetapi konteks menuntut cara menyatakan nilai berubah.”


Empat Pilar Transformasi Strategis

Grand Design PII memperkenalkan empat pilar sebagai fondasi masa depan organisasi:


1. Inklusivitas Radikal

PII memperluas pintu masuk organisasi tanpa mempersoalkan:

  • latar pendidikan
  • habitus kultural
  • preferensi belajar
  • platform digital
  • identitas minat

Inklusivitas ini menghapus dikotomi lama seperti santri vs umum, kader vs simpatisan, atau ideologis vs pragmatis.

Atqiya menekankan:

“Eksklusivitas adalah musuh masa depan.”


2. Ekosistem Digital Terintegrasi

Bagi pelajar, digital bukan sekadar alat—ia adalah ruang hidup.

Ekosistem digital PII diarahkan untuk menyediakan:

  • ruang pembelajaran adaptif
  • ruang mentoring karier
  • komunitas berbasis minat
  • kurasi konten edukatif
  • hingga integrasi layanan berbasis SuperApp

Digitalisasi bukan tambahan, tetapi arus utama.


3. Kedaulatan Ekonomi Pelajar

Generasi kini pragmatis dan mengevaluasi organisasi melalui utility value.

PII dituntut tidak hanya memberi narasi dan diskusi, tetapi juga pathway:

  • ekonomi kreatif
  • digital freelancing
  • bisnis pelajar
  • inkubasi talenta

Menurut Atqiya:

“Pelajar hari ini tidak sekadar ingin mengetahui dunia. Mereka ingin menembusnya.”


4. Resolusi Konflik Berbasis Keterbaratan

Unity tidak dibangun oleh seruan atau slogan, tetapi oleh keterhubungan (embeddedness) antar faksi, generasi, dan kultur internal.

Transformasi ini melihat konflik bukan ancaman, tetapi modal konsensus.

Atqiya menulis:

“Organisasi tidak tumbuh karena steril dari konflik, tetapi karena mampu mengelola konflik menjadi konsensus.”


Khitthah dan Konversi Konteks

Khitthah PII lahir di era revolusi fisik, ketika wacana pendidikan berkaitan dengan pertarungan politik dan kolonialisme. Kini medan perjuangan itu bergeser.

Jika pada 1947 musuhnya imperialisme fisik, hari ini musuhnya adalah:

  • algoritma
  • platform digital
  • ekonomi atensi
  • kecemasan identitas

“Hari ini musuh pelajar bukan senjata, tetapi banjir informasi dan kecemasan identitas.”

Konversi konteks ini penting agar Khitthah tetap hidup, bukan sekadar artefak sejarah.


Krisis Internal sebagai Momentum Perubahan

Tidak bisa dipungkiri, PII sedang berada dalam turbulensi struktural: dualisme kepemimpinan, mosi tidak percaya, hingga fragmentasi wilayah.

Namun dalam pandangan Atqiya, krisis tidak harus dilihat sebagai kiamat organisasi.

“Krisis membuat organisasi melihat dirinya di cermin.
Organisasi yang berani bercermin adalah organisasi yang punya masa depan.”


Independensi sebagai Konektivitas Baru

Independensi tidak lagi dimaknai sebagai menjauh dari pengaruh, tetapi sebagai kemampuan menghubungkan berbagai spektrum pelajar.

Dalam logika transformasi, PII ingin menjadi multi-konektor:

  • antar pelajar
  • antar sekolah
  • antar alumni
  • antar kultur keislaman
  • antar dunia digital dan dunia fisik

“Konektivitas adalah kekuatan baru organisasi.”


Penutup: Masa Depan Pelajar adalah Masa Depan PII

Grand Design Transformasi menempatkan PII sebagai ruang akselerasi bagi pelajar Muslim Indonesia untuk memasuki dunia global dengan mentalitas adaptif dan percaya diri.

Atqiya menutup naskahnya dengan refleksi tajam:Artikel

“Organisasi besar bukan yang pernah berpengaruh, tetapi yang masih berpengaruh.”

“PII harus memilih: hidup di masa lalu atau hadir di masa depan.”

Madinatul Fadhilah Parahiyangan