Hakikat Manusia

gemini generated image iqpmbeiqpmbeiqpm

Memahami Hakikat Manusia dalam Pendidikan Karakter

Landasan Ontologis Pendidikan Karakter

“Pendidikan akan kehilangan makna ketika manusia hanya diperlakukan sebagai objek kebijakan, bukan sebagai subjek yang sedang tumbuh.”
Dandi Ryadi, S.H.

Pembahasan pendidikan karakter tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan mendasar tentang hakikat manusia itu sendiri. Pertanyaan ini bersifat ontologis, yakni menyangkut apa dan siapa manusia yang menjadi subjek pendidikan. Tanpa pemahaman yang utuh tentang hakikat manusia, pendidikan karakter berisiko kehilangan arah dan terjebak pada pendekatan yang mekanis serta reduktif.

Landasan ontologis pendidikan karakter berangkat dari kesadaran bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis atau unit statistik dalam sistem pendidikan. Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi jasmani, rasional, moral, sosial, dan spiritual yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


Hakikat Manusia sebagai Makhluk Utuh

Dalam perspektif ontologis, manusia dipahami sebagai makhluk yang utuh dan dinamis. Ia tidak hanya hidup untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki dorongan untuk mencari makna, nilai, dan tujuan hidup. Pendidikan karakter dengan demikian harus diarahkan pada pengembangan seluruh dimensi kemanusiaan tersebut.

Pendekatan pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif berpotensi melahirkan individu yang cerdas secara intelektual, namun kering secara moral dan sosial. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu berpijak pada pandangan bahwa manusia adalah subjek yang memiliki potensi baik yang harus dibimbing, diasah, dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Dalam konteks ini, pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses pemaksaan nilai, melainkan sebagai proses pendampingan manusia dalam menemukan dan menumbuhkan potensi kemanusiaannya.


Manusia sebagai Makhluk Moral dan Sosial

Selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk moral dan sosial. Ia hidup dalam relasi dengan sesama dan lingkungannya. Setiap tindakan manusia selalu memiliki dimensi etis dan berdampak pada kehidupan bersama.

Landasan ontologis pendidikan karakter menempatkan nilai moral bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai bagian inheren dari keberadaan manusia. Pendidikan karakter karenanya tidak boleh terlepas dari realitas sosial peserta didik. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan keadilan harus ditanamkan melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sosial, bukan hanya melalui pengajaran teoritis.

“Karakter tidak tumbuh di ruang hampa. Ia lahir dari relasi, konflik, tanggung jawab, dan keberanian mengambil sikap.”
Dandi Ryadi, S.H.


Dimensi Spiritual dalam Hakikat Manusia

Landasan ontologis pendidikan karakter juga mengakui dimensi spiritual sebagai bagian penting dari hakikat manusia. Manusia tidak hanya hidup dalam ruang material, tetapi juga memiliki kesadaran transendental yang menghubungkannya dengan nilai-nilai ketuhanan dan makna hidup yang lebih tinggi.

Dalam konteks pendidikan karakter, dimensi spiritual berfungsi sebagai sumber orientasi nilai dan pengendali moral. Pendidikan yang mengabaikan dimensi ini berisiko melahirkan individu yang cerdas tetapi kehilangan kompas etis dalam menggunakan pengetahuannya.

Oleh karena itu, pendidikan karakter harus memberi ruang bagi pengembangan kesadaran spiritual yang inklusif, reflektif, dan kontekstual, tanpa jatuh pada indoktrinasi atau formalisme keagamaan.


Hakikat Manusia dalam Perspektif Pancasila–Islam–Sunda

Landasan ontologis pendidikan karakter Integrasi Pancasila–Islam–Sunda memandang manusia sebagai makhluk bermartabat yang hidup dalam keseimbangan antara individu, masyarakat, dan nilai ketuhanan.

  • Pancasila memandang manusia sebagai makhluk berketuhanan, berkemanusiaan, dan bermasyarakat.
  • Islam memandang manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial.
  • Budaya Sunda memandang manusia sebagai bagian dari harmoni sosial dan alam, dengan nilai kesantunan dan kebersamaan sebagai fondasi hidup.

Ketiga perspektif ini saling melengkapi dan membentuk pandangan ontologis yang menempatkan manusia sebagai subjek pendidikan yang aktif, bermoral, dan berakar pada nilai budaya.


Implikasi Ontologis terhadap Pendidikan Karakter

Pemahaman tentang hakikat manusia memiliki implikasi langsung terhadap praktik pendidikan karakter. Pendidikan tidak boleh memposisikan peserta didik sebagai objek pasif, melainkan sebagai subjek yang sedang bertumbuh dan mencari jati diri.

Implikasi ini menuntut pendekatan pendidikan yang:

  • menghargai martabat dan potensi peserta didik,
  • menumbuhkan kesadaran moral dan sosial,
  • serta mengintegrasikan dimensi intelektual, emosional, dan spiritual.

Dengan landasan ontologis yang kuat, pendidikan karakter tidak lagi bersifat normatif dan simbolik, tetapi menjadi proses pembentukan manusia secara autentik dan berkelanjutan.


Penutup: Ontologi sebagai Akar Pendidikan Karakter

Landasan ontologis merupakan akar dari seluruh bangunan pendidikan karakter. Ia menentukan bagaimana manusia dipahami, bagaimana nilai ditanamkan, dan bagaimana pendidikan dijalankan. Tanpa pijakan ontologis yang jelas, pendidikan karakter akan kehilangan substansi dan mudah tereduksi menjadi slogan.

Sebaliknya, dengan memahami hakikat manusia secara utuh, pendidikan karakter dapat menjadi proses pembentukan kepribadian yang bermakna—membantu manusia tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter, bermartabat, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bersama.Artikel

Madinatul Fadhilah Parahiyangan