Talkshow Pendidikan Madinatul Fadhilah Parahyangan: Revolusi Paradigma Pendidikan Berbasis Ashālat al-Wujūd & Ilmu sosial Profetik Menuju Indonesia Emas 2045

asset mfp ready (3)

Garut, 25 November 2025 — Dalam momentum Hari Guru Nasional, Yayasan Madinatul Fadhilah Parahyangan bersama LP2M STAI al-Musaddadiyyah Garut dan PD PII Kabupaten Garut akan menggelar Talkshow Pendidikan dan Final Lomba Cover Lagu PII bertema:

“Peer Teaching: Integrasi Kecerdasan Ilmu, Iman, dan Amal untuk Indonesia Emas 2045.”

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan revolusi paradigma pendidikan di Indonesia yang berlandaskan prinsip Ashālat al-Wujūd (keesaan wujud) dalam filsafat Islam. Melalui pendekatan ini, yayasan berupaya merekonstruksi kembali pandangan ontologis, epistemologis, dan aksiologis pendidikan agar selaras dengan semangat integrasi ilmu pengetahuan Islam, yakni penyatuan antara ilmu agama dan ilmu rasional.

Secara ontologis, pendidikan dipahami sebagai proses penyempurnaan wujud manusia yang berorientasi pada kesadaran ketuhanan. Secara epistemologis, pengetahuan harus disusun secara holistik, menggabungkan akal, intuisi, dan wahyu. Sementara secara aksiologis, pendidikan diarahkan pada pembentukan masyarakat berkeadilan melalui nilai-nilai Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo — yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Rangkaian dan Narasumber

Acara dibuka dengan sambutan dan hiburan,

dilanjutkan sesi pertama bertema “Membedah Krisis Pendidikan dan Peran Strategis Pemerintah untuk Generasi Emas 2045.”

Sesi ini menghadirkan (masih dalam tahap konfirmasi):

Prof. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D. (Wamendikdasmen),

Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng., IPU  (Bupati Garut)

 Atau drg. Luthfianisa Putri Karlina, M.B.A. (Wakil Bupati Garut) atau Dr. , dan

H. Atep Munajat (Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Komisi V).

Mereka membahas tantangan dan arah kebijakan pendidikan nasional, serta pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil dalam membentuk generasi emas yang berkarakter.

Sesi kedua mengangkat tema “Peer Teaching: Solusi Keilmuan Islam Integralistis — Sintesis Ilmu Pengetahuan Perspektif Hikmah Muta‘āliyah melalui pendekatan Multiple Intelligences.

1. Dr. (Habib) Umar Shahab (Wakil Direktur Islamic Cultural Centre & Dosen Senior STIF Sadra Jakarta): membahas urgensitas ashalat al wujud sebagai basis ontologis dan epistemologis  pendidikan alternatif yang digagas dalam menyelesaikan problematikan pendidikan dan pembangunan generasi emas di tahun 2045.

2. Rofiq Azhar, S.Ag., M.M. — Dosen STAI al-Musaddadiyyah Garut & Praktisi Pendidikan:  membahas Ilmu Sosial Profetik sebagai basis aksiologis pendidikan Ialternatif yang menekankan pentingnya transformasi nilai-nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam praksis pendidikan untuk membentuk manusia yang memiliki kecerdasan dalam berilmu, beramal sekaligus berketuhanan.

3. Dr. Irpan Amali — Director Peace Generation Indonesia & Founder Pesantren Welas Asih: menggali berbagai kecerdasan peserta didik melalui pendekatan multiple intelegence .

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi Forum Inspiratif dan Sharing dari peserta Peer Teaching

Dipimpin oleh Moh. Noval Sirajul ‘Ilm (Kabid Kaderisasi PD PII Garut)

Sesi ini menguraikan peta jalan strategi penerapan pendidikan Islam integratif-transformarif dengan dasar filosofis Ashalat al Wujud dan Ilmu Sosial Profetik dalam membentuk manusia seutuhnya dengan pendekatan Multiple Intelligences pada peer teaching di lingkungan sekolah dan pesantren

Penutupan acara dimeriahkan dengan penampilan Finalis Lomba Cover Lagu PII, dan diakhiri dengan pengumuman pemenang dan closing statement.

Output dan Harapan

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir lima capaian utama:

1. Kesadaran baru tentang paradigma pendidikan integral, yang menggabungkan potensi akal, jiwa, dan spiritualitas peserta didik yang memiliki integrasi kecerdasan ilmu, iman, dan amal.

2. Meningkatnya kapasitas guru dan pelajar dalam mengembangkan potensi diri melalui pendekatan Multiple Intelligences.

3. Terumuskannya model pendidikan alternatif yang menyatukan aspek spiritual, intelektual, dan sosial.

4. Terbangunnya Jaringan kolaboratif antar lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan model peer teaching berbasis komunitas.

5. Blueprint rekomendasi kebijakan pendidikan berbasis ilmu integralistik-transformatif.

Pendekatan Multiple Intelligences dijadikan basis metodologis untuk menumbuhkan seluruh potensi manusia sesuai fitrahnya, sementara peer teaching menjadi wahana praksis nilai profetik dalam kehidupan nyata dalam membangun generasi emas 2045 yang memiliki kecerdasan integralistik (kecederdasan ilmu-iman-amal).

Dengan paradigma pendidikan berbasis Ashālat al-Wujūd ini, Yayasan Madinatul Fadhilah Parahyangan menegaskan kembali visi pendidikan yang bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi menumbuhkan kesadaran wujud dan tanggung jawab sosial sebagai insan beriman, berilmu, dan beramal.

Dari Garut, gerakan ini diharapkan menjadi kontribusi nyata menuju Indonesia Emas 2045 — bangsa berkarakter, berpengetahuan, dan berketuhanan.BEASISWA

Madinatul Fadhilah Parahiyangan