
Perubahan sosial yang berlangsung secara cepat di Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Garut, membawa dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan. Modernisasi, kemajuan teknologi informasi, urbanisasi, serta arus globalisasi telah mengubah pola interaksi sosial dan nilai-nilai budaya yang sebelumnya mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Perubahan ini tidak selalu diikuti dengan kesiapan individu dan institusi sosial dalam menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan moralitas.
Dalam konteks pendidikan, sekolah diharapkan menjadi benteng utama pembentukan karakter generasi muda. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter secara formal belum sepenuhnya berhasil membentuk perilaku peserta didik yang berlandaskan nilai empati, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
Krisis Internalisasi Nilai Kemanusiaan dan Kebersamaan di Kalangan Pelajar Garut
Lemahnya internalisasi nilai kemanusiaan dan kebersamaan tampak nyata melalui berbagai kasus kekerasan antarpelajar, tawuran, serta tindakan vandalisme terhadap fasilitas publik dan sekolah. Fenomena ini masih kerap terjadi, bahkan di lembaga pendidikan yang secara formal telah menerapkan program pendidikan karakter. Hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep normatif pendidikan karakter dengan praktik keseharian peserta didik.
Kondisi ini menandakan bahwa pendidikan karakter belum sepenuhnya menyentuh dimensi afektif dan perilaku siswa. Nilai-nilai seperti empati, saling menghormati, dan kepedulian sosial belum terinternalisasi secara mendalam, sehingga mudah tergerus oleh pengaruh lingkungan sosial dan media digital.
Fenomena Empiris Krisis Karakter di Lingkungan Pendidikan Garut
Secara empiris, krisis karakter di kalangan pelajar dan masyarakat Kabupaten Garut tercermin dalam berbagai fenomena sosial yang semakin mengkhawatirkan. Salah satu kasus yang menjadi sorotan publik adalah peristiwa seorang siswa SMAN 6 Garut berusia 16 tahun yang ditemukan meninggal dunia di rumahnya dengan dugaan bunuh diri, yang diduga dipicu oleh pengalaman perundungan di lingkungan sekolah. Kasus ini, meskipun masih dalam pendalaman oleh pihak berwenang, mengungkap lemahnya nilai empati, penghormatan terhadap martabat sesama, serta minimnya dukungan sosial di lingkungan pendidikan.
Peristiwa tersebut menjadi refleksi serius bagi dunia pendidikan, bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang aman bagi peserta didik untuk tumbuh secara psikologis dan sosial.
Penyalahgunaan Teknologi dan Dampaknya terhadap Moral Pelajar
Selain kasus perundungan, fenomena viral yang dikenal sebagai “Video Vina Garut” juga pernah menghebohkan masyarakat dan menarik perhatian hukum serta sosial. Kasus ini memperlihatkan bagaimana penyalahgunaan teknologi digital, rendahnya pengendalian diri, serta lemahnya literasi moral berdampak luas terhadap reputasi individu, kesehatan psikososial, dan norma komunitas di Kabupaten Garut.
Perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan penguatan nilai etika dan karakter menjadikan generasi muda rentan terhadap perilaku menyimpang. Media digital, jika tidak disikapi secara bijak, dapat menjadi sarana yang mempercepat degradasi moral dan nilai sosial.
Penguatan Pendidikan Karakter sebagai Upaya Strategis
Menghadapi kondisi tersebut, penguatan pendidikan karakter harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Pendidikan karakter tidak cukup hanya dimuat dalam kurikulum atau slogan sekolah, tetapi perlu diintegrasikan dalam budaya sekolah, keteladanan guru, keterlibatan orang tua, serta dukungan lingkungan masyarakat.
Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun karakter generasi muda yang berlandaskan nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, perubahan sosial yang tidak terelakkan dapat dihadapi secara konstruktif, tanpa mengorbankan nilai-nilai moral dan jati diri generasi muda Kabupaten Garut.Artikel
REFERENSI
keagamaan sebagai sumber penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan modern. Pemikiran, J., Ke-Islaman, P. and Rijal, S.
(2018) ‘Ahsana Media Islamisasi Ilmu Pengetahuan Perspektif Ismail Raji Al-Faruqi Dan Implikasinya Dalam Pendidikan’,
journal.uim.ac.id, 4(2), hlm. 2549–7642. Available at: http://journal.uim.ac.id/index.php/ahsanamedia (Accessed: 3 March
2021).
19 Abdurahman Mas’ud, Menggagas Format Pendidikan Non dikotomik, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 118-125.
20 Nurcholish Madjid, Bilik-bilik Pesantren; sebuah potert perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hlm. 23.
21 Menurut al-Jabiry, corak epistemologi bayani didukung oleh pola pikir fikih dan kalam. Dalam ulum al-Qur’an epitemologi
bayani yang dikenal dengan istilah “tafsir”
24 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Laporan Asesmen Nasional dan Karakter Peserta Didik
(Jakarta: Kemendikbudristek, 2023), hlm. 45–47.
25 Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Statistik Kriminal dan Sosial Jawa Barat (Bandung: BPS Jabar, 2023), hlm. 112–
118.
26 https://news.detik.com/berita/d-8017280/siswa-garut-diduga-tewas-bunuh-diri-usai-di-bully-pemkab-buka-suara?utm_
27 https://www.liputan6.com/regional/read/4057768/kasus-vina-garut-polisi-temukan-113-video?utm
28 https://regional.kompas.com/read/2025/01/09/163742878/polres-garut-tangani-kasus-remaja-yang-alami-pelecehandan-perundungan?utm
29 https://news.detik.com/berita/d-7725111/gadis-remaja-di-garut-diduga-dilecehkan-3-kakak-kelasnya?utm_
30 https://www.antaranews.com/berita/4286635/kpai-bantu-pemulihan-psikis-10-anak-korban-asusila-gurunya-digarut?utm_
31 https://www.kompas.com/jawa-barat/read/2025/06/10/174500388/klaim-pernah-jadi-korban-imam-masjid-jaditersangka-kasus-pencabulan?utm_